Share |

Vatikan Bantah Aturan Selibat Penyebab Skandal Seks Pastor

Diposting oleh St. Nicodemus

(Roma 15/3/2010) Kasus paedofilia atau pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh para pastor di Eropa dan Amerika Serikat kerap terdengar. Vatikan membantah bahwa kewajiban selibat (hidup melajang atau tidak kawin) bagi para pastur merupakan akar penyebab berbagai skandal seks tersebut.


Anggapan bahwa aturan selibat tersebut ikut berperan dalam 'penyimpangan perilaku' seksual para pastur tersebut belakangan ramai beredar. Koran-koran Jerman dalam kolom-kolom opini terang-terangan menyebut aturan selibat sebagai penyebab skandal seks tersebut. Para komentator Italia bahkan mempertanyakan kewajiban selibat tersebut.

Bahkan salah seorang penasihat terdekat Paus Benediktus XVI, Kardinal Keuskupan Wina, Christoph Schoenborn belum lama ini menyerukan adanya peninjauan jujur atas masalah-masalah seperti selibat dan pendidikan kepastoran untuk memberantas sumber penyimpangan seks.

"Sebagian dari itu adalah pertanyaan mengenai selibat, serta masalah pengembangan karakter. Dan sebagian dari itu adalah kejujuran, di dalam gereja tapi juga dalam masyarakat," tulis Schoenborn dalam edisi online surat kabar keuskupannya.

Namun kantornya kemudian dengan cepat menekankan bahwa Kardinal Schoenborn tidak mempertanyakan selibat pastor. Paus Benediktus XVI baru-baru ini menekankan bahwa selibat merupakan ekspresi pelayanan seseorang pada Tuhan dan lainnya.

Vatikan menegaskan bahwa aturan selibat tak ada kaitan dengan skandal seks pastor. "Telah diketahui bahwa itu tak ada kaitan," tulis Uskup Giuseppe Versaldi dalam artikel di surat kabar Vatikan, L'Osservatore Romano seperti dilansir News.com.au, Senin (15/3/2010).

"Pertama-tama, diketahui bahwa pelanggaran seksual terhadap anak-anak lebih luas di kalangan awam dan mereka yang menikah dibandingkan di kalangan pastor yang berselibat," tulis Versaldi.

"Kedua, riset telah menunjukkan bahwa pastor-pastor yang bersalah atas pelanggaran itu telah lama meninggalkan selibat," imbuhnya.

Vatikan telah bersikap defensif sejak beberapa dari 170 mantan murid dari sekolah-sekolah Katolik di Jerman, negara asal Paus Benediktus membeberkan kasus seksual yang dialami mereka, termasuk dalam kelompok paduan suara anak laki-laki yang dulu pernah dipimpin oleh saudara laki-laki Benediktus.(detik.com)

Hari Komunikasi Sedunia ke-44 ( 04 Mei 2010 15:37 )

Diposting oleh St. Nicodemus


PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-44
16 MEI 2010





Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda

Saudara dan Saudariku Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini - Imam dan Pelayanan Pastoral di Du
nia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda- disampaikan bertepatan dengan perayaan Gereja tentang Tahun Imam. Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Berbagai komunitas Gereja sebenarnya telah menggunakan media modern untuk mengembangkan komunikasi, melibatkan diri dalam masyarakat serta mendorong dialog pada tingkat yang lebih luas. Akan tetapi penyebarannya yang tak terbendung serta dampak sosial yang besar pada jaman kini, media itu semakin menjadi penting bagi pelayanan imam yang berhasilguna.

2. Tugas utama semua imam adalah mewartakan Yesus Kristus, Sabda Allah yang inkarnasi dan mengkomunikasi rahmat penyelamatan-Nya melalui sakramen-sakramen. Dihimpun dan dipanggil oleh Sabda, Gereja menjadi tanda dan sarana persekutuan Allah dengan semua orang. Setiap imam dipanggil untuk membangun persekutuan dalam Kristus dan bersama Kristus. Disinilah terletak martabat yang luhur dan indah perutusan seorang imam yang secara istimewa menjawabi tantangan yang ditampilkan oleh Rasul Paulus: 'Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.'...Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Dan bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengarkan tentang Dia? Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? (Rom 10:11, 13-15).

3. Menggunakan teknologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dunia komunikasi digital dengan daya ekspresi yang nyaris tak terbatas mendorong ki
ta untuk mengakui apa yang disampaikan oleh St.Paulus:'celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil (1Kor 9:16). Kemudahan mendapatkan teknologi baru yang kian berkembang menuntut tanggungjawab yang lebih besar dari orang-orang terpanggil untuk mewartakan Injil serta termotivasi, terarah dan efisien menunaikan usaha-usaha mereka. Para imam berada di ambang ‘era baru': karena semakin intensifnya relasi lintas batas yang dibentuk oleh pengaruh media komunikasi, demikian pula para imam dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media secara berdaya guna demi pelayanan Sabda.

4. Penyebaran komunikasi multimedia dengan ragam ‘menu pilihan' tidak dimaksudkan untuk sekadar menghadirkan para imam di internet atau sekadar menjadikan internet ruang untuk diisi. Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil di dalam dunia komunikasi digital dengan menunaikan perannya sebagai pemimpin-pemimpin komunitas yang terus menerus mengungkapkan dirinya dengan ‘suara yang berbeda' yang dihadirkan oleh pasaraya digital. Dengan demikian, para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website
) yang seiiring dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog, evangelisasi dan katekese.



5. Dengan menggunakan teknologi komunikasi baru, para imam dapat
m
emperkenalkan kehidupan menggereja kepada umat dan membantu orang-orang jaman sekarang menemukan wajah Kristus. Hal ini akan dicapai dengan baik apabila mereka belajar -sejak dari masa pembinaan mereka- bagaimana memanfaatkan teknologi komunikasi secara kompeten dan selaras dengan pemahaman teologis yang mendalam dan spiritualitas imam yang kokoh, berakar pada dialog terus menerus dengan Tuhan. Dalam dunia komunikasi digital, para imam -lebih dari sekadar sebagai ahli media- seharusnya mengungkapkan kedekatannya dengan Kristus untuk memberikan ‘jiwa' baik bagi pelayanan pastoralnya maupun bagi aliran komunikasi internet yang tak terbendung.

6. Kasih Allah kepada semua orang dalam Kristus mesti diungkapkan dalam dunia digital bukan sekadar sebagai benda kadaluwarsa atau teori orang terpelajar tetapi sebagai sesuatu yang sungguh nyata, hadir dan melibatkan diri. Oleh karena itu, kehadiran pastoral kita di dalam dunia seperti itu harus bermanfaat untuk memperkenalkan orang-orang jaman sekarang teristimewa mereka yang mengalami ketidakpastian dan kebingungan, ‘bahwa Allah itu dekat, bahwa di dalam Kristus kita semua saling memiliki' (Benediktus XVI, Untuk Curia Romana,21 Desember 2009)

7. Siapakah yang lebih baik dari seorang imam, yang sebagai abdi Allah dan melalui kemampuannya di bidang teknologi digital dapat mengembangkan dan menunaikan pelayanan pastoralnya , menghadirkan Allah secara nyata di dunia jaman sekarang dan menampakkan kebijaksanaan rohani masa lampau sebagai harta yang mengilhami usaha kita untuk hidup layak dimasa kini sambil membangun masa depan yang lebih baik? Kaum laki-laki dan perempuan religius yang bekerja di bidang media komunikasi memiliki tangggjawab istimewa untuk membuka pintu bagi berbagai pendekatan baru, mempertahankan mutu interaksi manusia, menunjukkan perhatiannya bagi individu serta kebutuhan rohaninya yang sejati. Dengan demikian, mereka dapat menolong kaum laki-laki dan perempuan di jaman digital ini merasakan kehadiran Tuhan, menumbuhkan kerinduan dan harapan serta mendekatkan diri pada Sabda Allah yang menganugerakan keselamatan dan membangun manusia secara utuh. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpangsiurnya aneka ragam ‘jalan tol' yang membentuk ‘ruang maya' dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap jaman, termasuk di jaman kita ini. Berkat media komunikasi baru, Tuhan dapat menapaki jalan-jalan perkotaan kita sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita dan mengatakan lagi: Lihatlah, Aku berdiri de depan pintu dan mengetuk, Jika ada yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia dan dia bersama Aku" (Why.3:20)

8. Dalam Pesan tahun lalu, saya telah mendorong para pemimpin di dunia komunikasi untuk memajukan budaya menghormati demi nilai dan martabat manusia. Ini merupakan salah satu cara dimana Gereja dipanggil untuk menunaikan ‘palayanan terhadap budaya-budaya' di ‘benua digital' jaman sekarang. Dengan Injil di tangan dan di hati, kita mesti menegaskan lagi tentang perlunya mempersiapkan cara mengantar orang kepada Sabda Allah sambil memberikan perhatian kepada mereka untuk terus mencari bahkan kita harus mendorong pencarian mereka sebagai langkah awal evangelisasi. Kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital justru mengantar kita untuk berkontak dengan penganut agama lain, dengan orang-orang tak beriman dan orang-orang dari berbagai budaya, menuntut kepekaan terhadap orang yang tidak percaya, putus asa dan yang memiliki kerinduan mendalam dan tak terungkapkan akan kebenaran abadi dan mutlak, Demikianlah seperti yang diramalkan oleh Nabi Yesaya tentang sebuah rumah doa bagi segala bangsa (bdk Yes 56:7), dapatkah kita tidak melihat internet sebagai ruang yang diberikan kepada kita - semacam ‘pelataran bagi orang-orang bukan Yahudi' di Bait Allah Yerusalem- yakni mereka yang belum mengenal Allah?

9. Perkembangan dunia digital dan teknologi baru merupakan sumber daya yang besar bagi manusia secara keseluruhan dan setiap individu sebagai daya dorong untuk perjumpaan dan dialog. Perkembangan ini juga memberikan peluang besar bagi orang beriman. Tidak ada pintu yang dapat dan harus ditutup bagi setiap orang yang atas nama Kristus yang bangkit, memiliki komitmen untuk semakin mendekatkan diri kepada orang lain. Secara khusus bagi para imam, media baru ini memberikan kemungkinan pastoral yang baru dan kaya, mendorong mereka untuk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yang luas dan konkrit serta memberikan kesaksian di dunia jaman kini tentang hidup baru yang berasal dari mendengar Injil Yesus, Putra Abadi yang datang demi keselamatan kita. Seiring dengan itu, para imam mestinya mengingat bahwa keberhasilan utama dari pelayanan mereka datang dari Kristus sendiri, yang ditemukan dan didengar dalam doa, diwartakan dalam kotbah, dihidupi lewat kesaksian; dan diketahui, dicinta dan dirayakan dalam sakramen-sakramen, khususnya sakramen ekaristi dan rekonsiliasi.

Untuk para imamku yang terkasih, sekali lagi saya mendorong anda untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan unik yang disumbangkan oleh komunikasi modern. Semoga Tuhan menjadikan kalian bentara-bentara Injil yang bersemangat di ‘ruang publik' baru media dewasa ini.

Dengan penuh keyakinan, saya memohonkan perlindungan Bunda Maria dan Santo Yohanes Maria Vianey (Pastor dari Ars, Pelindung para imam) dan dengan penuh kasih saya memberikan kepada anda sekalian berkat apostolikku.

Vatikan, 24 Januari 2010, Pesta Santo Fransiskus de Sales.

Paus Benediktus XVI

PASKAH 2010

Diposting oleh St. Nicodemus

Sambutan Ketua Panitia Paskah 2010


Para Romo, Pengurus DPP,para ketua  Wilayah dan para  ketua Lingkungan , Bapak-bapak dan Ibu-ibu serta saudara - i  dan teman-teman OMK serta anak – anak Bina Iman yang terkasih dalam Tuhan  Yesus Kristus.
Puji  syukur  kami  haturkan kepada Bapa di surga, karena kami - wilayah XII- diberi kepercayaan menjadi Panitia Pelaksana Perayaan Paskah 2010. Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami menjadi bagian dari Gereja untuk menyelenggarakan event besar Paskah di paroki kita tercinta. Inilah pelayanan yang bisa kami persembahkan buat kemuliaan Tuhan.
Tugas yang tidak ringan dan cukup melelahkan ini dimulai dari pembentukan panitia pada akhir bulan November 2009, rapat – rapat koordinasi yg dilaksanakan secara maraton pada bulan – bulan berikutnya, hingga Hari Paskah ini. Terkadang situasi yang melelahkan ini membuat kami terjebak dalam ketegangan karena adanya perbedaan pandangan baik di antara panitia, Dewan Harian, Dewan Inti hingga Dewan Pleno. Bahkan barangkali mungkin kami pernah berbeda pendapat dengan petugas liturgi dan umat sekalian. Semuanya itu akhirnya kami sadari bahwa kita memiliki keinginan yang sama agar penyelenggaraan perayaan masa Prapaskah hingga Paskah dapat berjalan dengan lancar, aman, dan tentunya umat dapat beribadat, dan berdoa dengan penuh hikmat. Semuanya ini tentunya dapat terwujud berkat kerelaan kita dengan tulus dan sadar serta mau menggunakan hati, pikiran dan diri kita untuk menjalin hubungan dengan sesama tanpa pamrih

Untuk itu secara khusus kami mau menyampaikan penghargaan dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur baik lingkungan maupun perorangan, donatur internal maupun eksternal, media iklan, serta siapapun yang telah memberikan sumbangan pemikiran yang sangat membantu kelancaran penyelenggaran perayaan Paskah 2010.

Secara khusus, kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada para romo paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung -Romo Agustinus Malo Bulu, CSsR dan Romo Enos Bulu Bali, CSsR- yang secara intens terus memberikan support kepada panitia, juga para romo tamu yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan sakramen tobat, semua petugas liturgi, Dewan Paroki Pleno, Dewan Paroki Inti, Dewan Paroki Harian, petugas keamanan baik dari DENZIPUR 3 KODAM Jaya, DENMA Kopassus, KORAMIL Pasar Rebo, Kepolisian Sektor Metro Pasar Rebo, Kelurahan Cijantung, Ketua RW 06, Ketua RT 001/06, Ketua RT 002/04, Ketua RT 006/06 Kelurahan Cijantung, POKDAR KAMTIBMAS Sub Sektor Ps. Rebo serta seluruh umat katolik paroki St.Aloysius Gonzaga yang tidak bisa saya sebut satu persatu, semoga ketulusan Anda membantu kami mendapat berkat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tentunya apa yang kami lakukan masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kekurangan di sana-sini. Ada banyak keterbatasan yang kami miliki dan telah banyak kelemahan yang kami lakukan baik dalam tutur kata, tindakan maupun kurangnya pelayanan kami sejak Rabu Abu hingga hari Paskah ini, dan dengan rendah hati disertai dengan semangat kejujuran, kami memohon maaf atas semuanya itu. Kiranya dengan hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, dapat mengampuni seluruh dosa dan kesalahan kami.

“SELAMAT PASKAH 2010”

Allah yang Berbelas Kasih

Diposting oleh St. Nicodemus


 

Pemahaman akan Allah dalam sejarah kekristenan mengalami perkembangan. Agama Kristen berakar pada agama Yahudi yang sudah ada selama berabad-abad sebelum Yesus hadir di dunia. Pada mulanya agama Yahudi memahami Allah sebagai yang besar. Agung. Sesuatu yang sangat besar dan maha, sehingga menyebut pun mereka tidak berani. Tidak layak. Maka mereka memberi nama YHWH, sebuah susunan huruf mati. Meski manusia menganggap Allah sebagai pribadi yang tak tersentuh, namun para bapa bangsa Israel sudah mengadakan kontak dan berbicara dengan Allah.

Nuh mendengar sabda Allah tapi tidak menggambarkan Allah itu bagaimana. Abraham mendapat perintah dari Allah dan mengadakan perjanjian dengan Allah, namun Allah juga belum menampakkan diri. Musa melihat semak terbakar api dan mendengar suara Allah. Masih banyak lagi tokoh Perjanjian Lama yang mendengar sabda Allah. Elia bertemu Allah dalam angin yang sepoi-sepoi. Dia menutupi wajahnya sebab takut melihat Tuhan. Orang percaya bahwa dengan melihat Tuhan maka dia akan mati.

Kehadiran Yesus memberikan pemahaman baru tentang Allah. Allah yang semula jauh, tidak tersentuh, agung, kini menjadi dekat. Orang tidak lagi memanggilnya Allah melainkan Bapa. Sebuah panggilan yang sangat personal dan akrab. Selain itu ada pemahaman Allah yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah lebih digambarkan sebagai penguasa yang kadang kejam, misalnya kasus Ayub dengan penderitaannya. Atau kisah Nuh dimana ada banjir besar, sehingga semua makhluk bumi banyak yang musnah. Atau dalam kasus Abraham dimana masyarakat Sodom dan Gomora dihancurkan luluh lantak. Atau dalam kasus Yunus dengan penduduk Niniwe yang akan dihukum namun ternyata dibatalkan oleh Allah sebab penduduk Niniwe mendengarkan suara Yunus dan bertobat.

Yesus tidak seperti para nabi dalam Perjanjian Lama yang melihat Allah sebagai pribadi yang jauh, tak tersentuh. Yesus berusaha menghadirkan Allah yang jauh menjadi sangat dekat. Bahkan menyatu denganNya. “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30). Persatuan Allah dengan Yesus tidak menjadi hak ekslusif Yesus, sebab akhirnya Yesus pun bersatu dengan manusia (Yoh 17:23). Selain itu perubahan besar yang terjadi adalah gambaran diri Allah. Allah bukan lagi pribadi yang mengerikan dan membuat orang takut, melainkan pribadi yang penuh belas kasih. Dia tidak hanya mengasihi orang yang baik, tetapi juga orang yang jahat (Mat 5:45) dengan kasih yang sama. Salah satu gambaran Allah yang berbelas kasih diajarkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32). Lukas dengan sangat indah menggambarkan betapa besar belas kasih Bapa.

Kisah anak yang hilang menggambarkan wajah Allah yang sangat penuh belas kasih. Kisah diawali dengan tuntutan anak bungsu untuk meminta harta warisan. Permintaan anak bungsu adalah sebuah tuntutan yang tidak layak. Sebagai anak pasti dia sudah mendapatkan yang cukup dari bapanya, namun dia tidak puas, maka menuntut apa yang seharusnya belum waktunya. Namun bapanya memberikan apa yang dia minta. Tidak ada tuntutan dari bapanya mengenai semua itu. Dalam Perjanjian Lama, Allah memberikan semua isi taman kepada Adam, kecuali satu buah saja yang tidak boleh dimakan. Adam dan Hawa secara sembunyi-sembunyi mengambil apa yang seharusnya tidak boleh diambil, maka mereka dihukum oleh Allah. Ini berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh anak bungsu. Allah memberikan apa saja kepada manusia tanpa tuntutan dan batasan.

Kepergian anak bungsu untuk menghamburkan hartanya dengan bermabuk-mabukan dan dengan para pelacur merupakan perwujudan dari rasa keinginan manusia untuk bebas. Bebas menikmati apa saja yang mampu diperoleh. Hidup berfoya-foya dan melanggar tata susila. Masyarakat Sodom dan Gomora yang hidup berfoya-foya dan melanggar tata susila langsung dihukum oleh Allah, meski Abraham sudah berusaha untuk mengadakan tawar menawar. Allah tidak mau dinomorduakan. Dia adalah Allah yang pencemburu (bdk Yes 26:11). Allah yang siap menghukum orang yang tidak berjalan sesuai dengan kehendakNya.

Perjalanan hidup si bungsu sampai pada titik terendah hidupnya, dia jatuh miskin dan terpaksa bekerja di peternakan milik seseorang. Akibat kelaparan maka dia memakan sisa makanan babi. Masuk dalam kegelapan hidup ini, si bungsu menyadari akan kesalahannya. Kesadaran si bungsu akan kesalahan pilihan hidupnya membuat dia ingin kembali pada bapanya. Keputusan pulang ke rumah bukanlah sebuah keputusan ringan dan mudah. Ada rasa malu, sesal, kalah bercampur aduk menjadi satu. Kesadaran si bungsu timbul dari sebuah permenungannya mengenai realita hidup yang pahit dengan pengalaman akan belas kasih bapanya di rumah. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Keinginan kembali berbenturan dengan kesadaran akan dosa yang telah diperbuatnya. Maka setelah memutuskan untuk kembali, si bungsu tidak berharap banyak dari bapanya. Baginya sudah cukup bila dia bisa mendapatkan makanan yang layak. Dia tidak ingin menggunakan haknya sebagai anak untuk memperoleh apa yang menjadi kebutuhannya. Dia lebih memposisikan diri sebagai budak.

Yunus datang ke kota Niniwe dengan menebarkan ancaman hukuman yang akan dijatuhkan Allah bila orang Niniwe tidak bertobat. Takut akan ancaman itu, maka mereka bertobat dengan melakukan tanda-tanda pertobatan. Mereka takut akan binasa (Yu 3:9). Allah menyesal telah merencanakan hukuman bagi mereka. Ada perbedaan yang sangat besar antara rasa sesal yang dialami oleh si bungsu dengan rasa sesal rakyat Niniwe. Si bungsu menyesal sebab dia sadar bahwa dia sudah bersalah pada bapa dan surga. Dia membandingkan hidupnya jika dekat dengan bapa dan meninggalkan bapa. Ternyata pilihan hidup meninggalkan bapa adalah sebuah kesalahan. Sedangkan penduduk Niniwe bertobat karena diancam oleh Allah. Pertobatan dibawah ancaman bukanlah sebuah pertobatan yang muncul dari hati yang terdalam. Bisa saja mereka tidak pernah menyadari masa lalunya yang bahagia. Mereka hanya menyatakan tobat demi keamanan diri atau bangsanya. Bukan sebuah kesadaran untuk memperbaiki kembali hubungannya dengan Allah.

Beberapa orang beriman mewartakan agamanya dengan menggambarkan neraka. Bila orang menolak atau tidak beriman maka akan masuk neraka. Sebaliknya bila menerima, maka dia akan masuk surga. Neraka digambarkan dengan sangat mengerikan. Hal ini untuk membuat orang menjadi takut sehingga memeluk agama itu. Untuk beriman orang ditakut-takuti. Yesus tidak pernah menggambarkan neraka secara jelas. Yesus mengajak orang untuk mengikutiNya bukan dengan menakuti mereka akan hukuman, melainkan dengan menunjukkan belas kasih. Allah bukan Allah yang menghukum melainkan Allah yang menyelamatkan. Origenes salah satu bapa Gereja mengatakan bahwa sebetulnya neraka tidak ada. Pendapat ini juga diikuti oleh beberapa teolog sampai saat ini. Menurut Origenes, orang yang berbahagia adalah jika orang itu mau mendekatkan diri dengan Allah. Sebaliknya bila dia tidak mampu mendekat.

Keputusan si bungsu kembali ke rumah bapa berdasarkan ingatan akan belas kasih bapa. Ketika sampai dekat rumah ternyata bapa sudah menanti. Bapa menyongsong si bungsu penuh dengan suka cita. Anaknya yang hilang telah kembali. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut bapa untuk menyalahkan si bungsu. Bapa juga tidak pernah bertanya dari mana si bungsu selama ini. Kemana saja harta yang telah diberikannya. Jika bapa sudah mendengar tentang kehidupan si bungsu selama ini, dia juga tidak menegur mengapa si bungsu melakukan semua itu. Hanya satu hal yang dilakukan oleh bapa yaitu memberikan yang terbaik untuk si bungsu.

Bapa menyuruh para pegawai untuk memberikan jubah, sepatu, perhiasan dan mengadakan pesta. Pakaian adalah lambang martabat dan status seseorang. Pemberian kembali pakaian yang pantas merupakan usaha bapa memulihkan martabat si bungsu. Si bungsu yang sudah terpuruk dalam kehinaan, sehingga martabatnya sudah sama dengan hewan, sebab dia makan sisa makanan babi, diangkat kembali oleh bapanya. Tidak hanya dengan pemberian pakaian tetapi juga dengan pelukan. Tidak ada hukuman bagi si bungsu yang telah berdosa.

Kehadiran si sulung merusak suasana suka cita. Protes si sulung hampir mirip dengan Yunus yang protes sebab masyarakat Niniwe tidak jadi dihukum. Orang bersalah harus dihukum, bahkan hukuman itu bisa dibebankan pada keturunannya (bdk Yoh 9:2-3). Si bungsu yang sudah meninggalkan bapa dan memboroskan harta miliknya harus dihukum. Namun bapa tidak menghukum bahkan menyambutnya penuh dengan suka cita. Mengapa orang berdosa dibiarkan saja bahkan dibuatkan pesta? Inilah belas kasih Allah. Inilah bukti belas kasih dari Bapa. Belas kasih yang memuat pengampunan, suka cita dan kerelaan untuk memulihkan martabat manusia.

Si sulung melihat tindakan bapa sebagai tindakan yang tidak adil. Mengapa adiknya yang bersalah tidak dihukum sebaliknya dipestakan sedangkan dia yang setia tidak mendapatkan apa-apa? Tindakan Allah yang tampak kurang adil juga diungkapkan dalam perumpamaan mengenai pekerja di kebun anggur (Mat 20:1-15). Orang yang bekerja sejak pagi diupah sama dengan orang yang bekerja hanya satu jam saja. Dalam pandangan manusia memang hal ini tidak adil, tapi kemurahan hati Allah lebih luas daripada pemahaman manusia tentang keadilan.

Dari uraian diatas bisa dilihat bahwa ada perubahan mengenai pemahaman akan Allah dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Allah yang dipahami oleh para bapa bangsa Israel dengan Allah yang dibawa oleh Yesus. Dari Allah yang pencemburu dan mudah sekali menjatuhkan hukuman menjadi wajah Allah yang lebih personal dan penuh dengan belas kasih.

oleh: P. Yohanes Gani Sukarsono, CM









Natal Bersama Lingkungan NICSAN XII

Diposting oleh St. Nicodemus